Rabu, 13 Agustus 2014

SELAMAT DATANG SANTRI BARU

SELAMAT DATANG SANTRI BARU DI KAMPUS TADIKA BORNEO

Jumat, 04 Juli 2014

Selamat Berpuasa

SELAMAT MENJALANKAN IBADAH PUASA, SEMOGA RAMADAN INI DAPAT MEMPERBAIKI BUDI PEKERTI KITA. AMIN 

Rabu, 28 Mei 2014

SELAMAT UJIAN ANAKKU

Santri Gontor sedang mengikuti ujian lisan dan setelah itu akan diteruskan ke ujian tulis. Kami segenap orang tua, dan saudara-saudaramu turun berdo'a, semoga semua ujian bisa kamu hadapi dengan tenang dan menghasilkan prestasi yang membanggakan.

Hal-hal yang perlu kamu ketahui amang: Pertama, ujian untuk mengevalusi sejauh mana penguasaan santri terhadap pelajaran yang diajarkan oleh ust.-ust. Kedua, ujian salah satu cara agar santri belajar. Ketiga, Yang Maha Pintar itu hanyalah Allah. Dari usaha manusia belajar, Allah menurunkan rahmatNya untuk dapat kita pahami, untuk itu jangan lupa berdo'a, "allimni bima jahiltu wa dzakkirni mimma nasitu: beritahu aku ya Allah jika aku tidak tahu, dan ingatkan aku, jika uku lupa". Keempat, target untuk mejadi juara I atau untuk mendapatkan nilai setinggi-tingginya dalam ujian tidaklah bagus. Tujuan yang bagus itu menurut pemahaman papa, keridaan kita sebagai manusia yang bertanggung jawab untuk diuji. Keridaan itu ditandai dengan senang belajar dan tenang mengikuti ujian, bersyukur atas semua hasilnya.

Senin, 14 April 2014

Membuat Persiapan Diskusi Harus Memperhatikan Kisi-Kisi Silabus

Pengantar
Kuliah Tasauf Pertemuan Keempat
Sehat Sultoni Dalimunthe, M.A.

1.      Pengertian, Latar Belakang, dan Perkembangan Tasauf
2.      Asal Kata, Teori Asal Usul Tasauf, dan Tanggapan Ulama terhadapnya
3.      Analisis


Paradigma Baru dalam Melihat Tasauf
Kuliah Tasauf Pertemuan Keempat
Sehat Sultoni Dalimunthe, M.A.

1.      Paradigma lama dalam melihat tasauf
2.      Paradigma baru dalam melihat tasauf
3.      Pengertian sup ralogis dan supra rasional
4.      Agrumentasi normatif  konsep supra logis atau supra rasional
5.      Analisis terhadap paradigma baru


Perbandingan Cara Pandang Filsafat dan Tasauf Melihat Tuhan
Kuliah Tasauf Pertemuan Kelima
Sehat Sultoni Dalimunthe, M.A.

1.      Konsep dasar filsafat dan Tasauf: Persamaan dan Perbedaan
2.      Konsep Tuhan dalam Filsafat dan Tasauf: Perbedaan
3.      Argumentasi normatif
4.      Analisis terhadap perbedaan cara pandang filsafat dan tasauf dalam melihat Tuhan.

Maqamat Menuju Tuhan
Kuliah Tasauf Pertemuan Keenam
Sehat Sultoni Dalimunthe, M.A.
15 April 2014

Pembahasan ini, setidaknya mendiskusikan:
1.      Pengertian maqamat dan ahwal: Didekati dari analisis linguistik dan terminologi, keterpaduan, perbedaan, dan contoh yang diawali oleh analogi.
2.      Tingkatan maqamat dan ahwal berdasarkan pengalaman mistik para sufi dari tasauf Sunni dan Falsafi
3.      Perpedaan pandangan maqamat tasauf Sunni dan Falsafi
Dianjurkan menambahkan:
1.      Apa saja yang dilakukan calon sufi dalam maqam taubat dan bagaimana kemungkinan ahwalnya.
2.      Bagaimana menguji tingkat maqam para calon sufi dan siapa yang menentukan kelulusannya.
3.      Bagaimana pandangan sufi tentang sabar dan tingkatannya
4.      Bagaimana pandangan sufi terhadap tawakkal dan rida serta cara mengukurnya
5.      Bagaimana pandangan ulama terhadap zuhud.
6.      Fenomena sikap zuhud orang yang lanjut usia


Mahabbah dan Ma’rifah
Kuliah Tasauf Pertemuan Ketujuh
Sehat Sultoni Dalimunthe

Pembahasan ini, setidaknya mendiskusikan:
1.      Pengertian mahabbah dan ma’rifah secara linguistik dan terminologinya dalam tasauf
2.      Konsep Mahabbah dan Ma’rifah
3.      Tingkatan Mahabbah dan Ma’rifah
4.      Rasionalisasi Mahabbah dan Ma’rifah
5.      Biografi Tokohnya

Ahwal dalam Perjalanan Menuju Tuhan
Kuliah Tasauf Pertemuan Kedelapan
Sehat Sultoni Dalimunthe

1.      Pengertian  dan sifat ahwal dalam tasauf
2.      Analagi ahwal
3.      Macam-macam ahwal, sebagai pengalaman mistik para sufi
4.      Analisis ahwal dalam maqamat

Aliran-Aliran Tasauf
Kuliah Tasauf Pertemuan Kesembilan
Sehat Sultoni Dalimunthe

1.      Latar Belakang Munculnya aliran tasauf: rasionaliasasi dan fenomena
2.      Macam-macam aliran tasauf
3.      Ciri khusus aliran-aliran tasauf
4.      Analisis terhadap aliran-aliran tasauf


Al-Fana wa al-Baqa
Kuliah Tasauf Pertemuan Kesepuluh
Sehat Sultoni Dalimunthe

1.      Pengertian al-Fana wa al-Baqa secara linguistik dan terminologi tasauf
2.      Konsep al-Fana wa al-Baqa
3.      Analogi al-Fana wa al-Baqa
4.      Letak penolakan ulama dalam konsep al-fana wa al-baqa
5.      Analisis  terhadap konsep al-fana wa al-baqa

Ittihad, Wahdatul Wujud, dan Hulul
Kuliah Tasauf Pertemuan Kesebelas
Sehat Sultoni Dalimunthe

1.      Pengertian Ittihad, Wahdatul Wujud, dan Hulul secara linguistik dan terminologi tasauf
2.      Konsep ittihad, wahdatul wujud, dan hulul: Persamaan dan perbedaan
3.      Rasionalisasi konsep ittihad, wahdatul wujud, dan hulul
4.      Analisa konsep ittihad, wahdatul wujud, dan hulul dalam perspektif filsafat mistik

Pemikiran Tasauf Ibn ’Arabi dalam Fushus al-Hikm
Kuliah Tasauf Pertemuan Keduabelas
Sehat Sultoni Dalimunthe

1.      Komentar para ahli terhadap Ibn Arabi
2.      Biografi Ibn Arabi: Identitas, Pendidikan, Murid, Guru, Karya
3.      Perkenalan dengan Fushusu al-hikm
4.      Konsep Tasauf dalam Fushus al-hikm
5.      Analisa terhadap pemikiran Ibn Arabi dalam Fushus al-hikm


Pemikiran Tasauf Abdul Karim al-Jili dalam al-Insan al-Kamil
Kuliah Tasauf Pertemuan Ketigabelas
Sehat Sultoni Dalimunthe

1.      Komentar para ahli terhadap al-Jili
2.      Biografi al-Jili: Identitas, Pendidikan, Murid, Guru, Karya
3.      Perkenalan dengan al-Insan al-Kamil
4.      Konsep Tasauf dalam al-Insan al-Kamil
5.      Analisa terhadap pemikiran al-Jili dalam al-Insan al-Kamil

Pemikiran Tasauf Jalaluddin Rumi dalam Matsnawi dan Fihi Ma Fihi
Kuliah Tasauf Pertemuan Ketigabelas
Sehat Sultoni Dalimunthe

1.      Komentar para ahli terhadap Jalaluddin Rumi
2.      Biografi Rumi: Identitas, Pendidikan, Murid, Guru, Karya
3.      Perkenalan dengan Fihi ma Fihi
4.      Konsep Tasauf dalam Fihi ma Fihi
5.      Analisa terhadap pemikiran Rumi dalam Fihi ma Fihi


Senin, 07 April 2014

Kuliah Pertemuan Kelima Tasauf

Perbandingan Cara Pandang Filsafat dan Tasauf Melihat Tuhan
Kuliah Kelima Tasauf
Sehat Sultoni Dalimunthe, M.A.

A.     Filsafat Ketika Dipelajari Tasauf Ketika Diamalkan
Perlu dikemukakan kembali pendapat Prof. Dr. Mulyadhi Kartanegara bahwa tasauf itu ketika dipelajari sebagai filsafat, tetapi ketika diamalkan sebagai tasauf. Untuk itu sebagian berpendapat termasuk Mulyadhi bahwa tasauf itu tidak bisa dipelajari, tetapi bisa diamalkan saja. Artinya, bertasauf itu urusan praktek bukan teori.
Pernah kita Anda berbuat kebaikan dengan tulus ikhlas karena kebaikan itu merupakan kepribadianmu. Dalam makna seperti ini, tasauf bagaikan akhlak, yaitu perbuatan baik yang dengan mudah dan ringan dilaksankan tanpa proses berpikir. Karena ini urusan dalam, maka susah dinilai dengan benar. Selain itu, di zaman sekarang agak susah kita mendapat manusia yang tulus berbuat baik. Ciri-cira manusia seperti ini, ia lebih mengutamakan orang lain daripada dirinya. Di satu sisi, orang bilang bagaikan lilin, menerangi, tetapi ia hancur. Dalam konsep tasauf tentu tidak bisa disamakan dengan lilin. Yang dapat diterima, itulah pengorbanan.
”Suka berkorban”, tapi bukan  jadi korban. Berkorban itu nilainya tinggi, sementara korban nilainya rendah. Dus, dua konsep yang sangat berjauhan antara berkorban dan korban. Berkorban itu perbuatan mulia, sementara korban itu akibat kelemahan, sehingga mengundang belas kasihan. Kalau bukan karena konsep pengorbanan buat apa Rasulullah Saw. memperjuangkan Islam ini. Resistensi ia dapatkan dari dalam dan luar. Ia siap dimusuhi oleh keluarga terdekatnya, bahwa siap untuk mempertaruhkannya nyawanya untuk Islam sebagai ketaatan kepadaNya.
Na’uzu billah, iman kita boleh jadi lemah. Kekuatan iman itu akan kelihatan ketika behadapan dengan tantangan kehilangan nyawa. Sahabat Rasul dulu banyak yang bercita-cita mati syahid dalam peperangan. Sekarang ini, kesiapan mati syahid demi ketaatan kepada Allah boleh jadi cerita yang jarang kita dengar.
Alkisah menceritakan bahwa ada seorang ust. yang punya penyakit mag, sehingga ia dilarang oleh dokter puasa. Karena sudah lama ia tidak puasa, suatu saat jiwa ketaatannya melawan dan berkata, ”saya akan puasa walaupun harus mati”. Mungkin seperti inilah kualitas jiwa yang diinginkan oleh tasauf itu.
Filsafat berbicara dengan akalnya sementara tasauf dengan hatinya. Dalam pandangan filsafat itu, Tuhan itu sangat jauh dan tidak terjangkau. Akal tidak pernah selesai jika berbicara Tuhan, karena Tuhan itu Maha Gaib, tapi menurut Mulyadhi justru Ia Paling Nyata, karena Ialah yang pasti Ada dan mustahil tiada, sementara yang lainnya, tiada karena ia mungkin menjadi tidak ada.
Tasauf memangdang Tuhan itu sangat dekat, bahkan lebih dekat dari urat nadi kita. Mereka merujuk dari Q.S. Qaf/50: 60.
وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ
Artinya, ”Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui
apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada urat lehernya,” (Q.S. Qaf/50: 60.)
Karena Tuhan begitu dekat dalam pandangan tasauf,  maka terkadang mereka tahu apa yang diketahui Tuhan karena diberitahu olehNya. Itulah yang kelak yang dipelajari dalam pembahasan ”ma’rifah”. Kalau tidak tahu batasannya seakan-akan sufi itu seperti dukun yang bisa mengetahui hal yang gaib. Bedanya dukun kalau ditanya selalu bilang tau. Sementara sufi yang memiliki ma’rifah tidak selama ia tau. Ia tau karena diberitau oleh Tuhan dan ia tidak tau, jika tidak diberitahuNya. Dukun selalu tau, jika ia tidak tau, maka ia menjadi tidak dukun lagi. Dukun mengetahuinya bukan dari Tuhan, tapi dari cara yang tidak dibenarkan agama dan cenderung mereka menduga-duga saja, walaupun terkadang tebakan mereka benar.



Senin, 31 Maret 2014

Paradigma Baru dalam Melihat Tasauf

Kuliah Keempat Tasauf
Paradigma Baru dalam Melihat Tasauf
Sehat Sultoni Dalimunthe
1-4-2014

Tasauf pada mulanya dipandang para ilmuan, khususnya para saintis sebagai disiplin ilmu yang irrasional Artinya, tidak masuk akal. Sesuatu yang tidak masuk akal pada mulanya dianggap rendah secara ilmiah. Sesuatu yang bertentangan dengan akal itu dianggap rendah dan tidak benar.
Kalau seseorang yang tinggal di Lhokseumawe mengatakan bahwa ia shalat Jum’at di Mesjidil Haram dan pada hari yang sama dan tanggal yang sama ia Shalat Ashar di Mesjid Baitul Rahman Lhokseumawe. Logika manusia normal akan mengatakan bahwa berita itu tidak mengandung kebenaran atau itu suatu kebohongan atau orang yang menyampaikan itu adalah orang gila dan sekian sebutan yang mengatakan itu tidak masuk di akal normal manusia. Nilai berita itu sebanding dengan mengatakan ”ada pohon pepaya berbuah mangga”. Bagi mereka yang mengetahui bahwa pohon pepaya adalah berbuah pepaya dan tidak pernah berbuah yang lainnya seperti buah mangga, maka ia akan mengatakan proposisi itu tidak benar atau proposisi itu mengada-ngada atau proposisi itu tidak perlu ditanggapi. Karena selama ini, ia tidak pernah melihat hal itu. Sesuatu yang tidak pernah ia lihat, maka ia nilai salah. Bukankah masih banyak yang tidak pernah kita lihat dan itu ternyata benar?
Yang tidak pernah dilihat bukan berarti tidak benar bukan? Pernahkah kita melihat akal, hati, dan nafsu manusia? itu tidak pernah kita lihat, hanya saja sering kita baca dan sering dibicarakan, sehingga kita pun yakin bahwa hal itu ada pada diri manusia. Siapa yang berani mengingkari adanya ruh? sedangkan ruh itu tidak pernah kelihatan, tapi itu diyakini ada oleh manusia yang normal.
Begitulah paradigma lama para siantis melihat tasauf, sesuatu yang rendah dan bahkan tidak bernilai kebenaran, sehingga orang yang bertasauf itu ”dianggap sebelah mata”.
Sealur dengan perkembangan tasauf yang awalnya dianggap rendahan pada gilirannya ternyata dinilai terbalik bahwa tasauf itu adalah disiplin ilmu yang membutuhkan tingkat rasionalitas yang tinggi, sehingga akal manusia saja tidak akan sampai menembus pemahamannya. Bagaimana kisah di atas, seseorang yang tinggal di Lhokseumawe dapat shalat Jum’at di Mesjidil haram, pada hari dan tanggal yang sama ia shalat Ashar di Mesjid Baitul Rahman Lhokseumawe. Ternyata proposisi itu harus lagi ditafsirkan dengan nomenklatur tasauf tentang alam ruh.
Untuk menjelaskan alam ruh, secara sederhana, bisa dijelaskan bahwa seorang mahasiswi yang baru tiga hari menikah mengikuti kuliah di STAIN. Pada saat berjalan perkuliahan di ruang belajar, ternyata fisik dari mahasiswa itu jelas dilihat hadir. Ternyata akal pikirannya, hati, dan nafsunya masih ada di rumah. Seakan2 akal, hati, dan nafsurnya mengatakan, ”lama kali kuliah ini, saya ingin cepat2 pulang agar ketemu dengan suamiku tercinta yang ganteng dan baik hati. Belaiannya tadi malam sangat mengesankan. Aku ingin berlama2 dengnnya, dsb”. Analogi itu dapat memahami gambaran alam ruh orang yang mengatakan shalat Jum’at di Mesjidil Haram dan shalat Ashar di Mesjid Baitul Rahman Lhokseumawe, Ruhnya atau jiwanya bisa jadi shlat Jum’at di Mesjidil Haram, sedangkan jasadnya tetap shalat Jum’at di Mesjid Baitul Rahman Lhokseumawe. Meskipun ia shalat Jum’at di Baitul Rahman Lhokseumawe, tapi jiwanya hadir di Mesjidil Haram. Begitu ia shlat Ashar di Mesjid Baitul Rahman pada hari dan tanggal yang sama, ternyata jiwanya pun tetap shalat di tempat itu dan tidak di Mesjid Bairul Rahman. Analogi seperti ini dapat diterima oleh akal karena kita bisa mengalaminya.
Kemungkinan lain bisa juga terjadi bahwa jasad dan ruhnya memang shalat Jum’at di Mesjidil Haram dengan kekuasaan dan kehendak Allah, sementara pada hari dan tanggal yang sama ia sudah shalat Ashar di Mesjid Baitul Rahman Lhokseumawe. Itu tidak masuk akal bukan, tapi Allah pasti mampu melakukannya karena Ia Maha Kuasa dan kuasa melakukan apa saja, tanpa kecuali, termasuk kuasa membuat matahari terbit dari Barat dan terbenam di Timur.
Untuk itu, sekarang ini tasauf dipandang sebagai disiplin ilmu yang menggunakan pendekatan suprarasional atau supralogis, dimana kemampuan akal yang tinggi, hingga mendekati akal kehendak Allah. Bertasauf sekarang ini menuntut ketinggian logika. Orang yang kemampuan logikanya tidak bagus, maka logika tasaufnya dengan sendirinya akan rendah. Untuk itulah program studi filsafat di Perguruan Tinggi Islam dengan sendirinya mempelajari tasauf itu sendiri. Disinilah Prof. Dr. Mulyadhi Kartanegara mengatakan bahwa tasauf ketika dipelajari adalah filsafat, ketika diamalkan sebagai tasauf.


Minggu, 23 Maret 2014

Kuliah Tasauf Pertemuan Ketiga 25 Maret 2014

KULIAH TASAUF KETIGA, SELASA 25 MARET 2014
SEHAT SULTONI DALIMUNTHE, M.A.
A.      PENGERTIAN
Tasauf bisa didefenisikan dengan bermacam2 redaksi, tetapi tidak keluar dari:
1.       Tasauf itu teori untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan jarak yang sedekat-dekatnya
2.       Tasauf  untuk mensucikan diri
3.       Tasauf bekerja dengan hati
4.       Tasauf melihat dunia sebagai jembatan untuk menuju akhirat.
5.       Tasauf pengalaman mistik para sufi.
6.       Tasauf adalah teori mistik keagamaan Islam

B.      LATAR BELAKANG LAHIRNYA TASAUF
Tasauf lahir dari sikap umat Muslim, khususnya para pemimpin yang tidak mengindahkan ajaran Allah. Tasauf lahir dari latar belakang moral keagamaan yang mencintai Allah.

C.      PERKEMBANGAN TASAUF
Pada mulanya tasauf itu bukanlah suatu disiplin ilmu, tapi sebagai gerakan moral keagamaan kemudian pada masa tabi’in-tabiin menjadi suatu disiplin ilmu. Secara umum perkembangan tasauf dibagi tiga:
1.       Tasauf Sunni, dimana bertasauf mengikuti  tarikat dengan system maqamat atau tahapan-tahapan menuju Tuhan, tanpa ada konsep al-fana wa al-baqa dan konsep persatuan Sufi dengan Tuhan.
2.       Tasauf Falsafai, dimana bertasauf  yang berujung pada konsep persatuan sufi dengan Tuhan.
3.       Tasauf Modern, ini istilah yang tidak begitu populer. Di Indonesia dipopulerkan oleh Buya Hamka dimana bertasauf tidak mesti mengikuti tarekat dan tidak mesti berujung pada konsep persatuan Sufi dengan Tuhan, tetapi selagi manusia berada pada panduan ilahi, maka ia sedang bertasauf. Dalam makna yang terakhir ini, belajar untuk menuntut ilmu menjadi amalan tasauf karena ia juga sesuai dengan panduan Allah dan mendatangkan pahala.

D.      ASAL KATA TASAUF
Tasauf itu dikatakan berasal dari lima kata. Pertama, saf, yang berarti saf pertama di dalam shalat, dimana mereka itu adalah golongan terbaik. Artinya, orang-orang sufi adalah orang-orang terkekat Tuhan, sehingga mereka berhak disebut orang terbaik. Kedua, sofin, artinya suci. Artinya para sufi itu menilai mereka itu orang suci, sementara yang lainnya, “sok suci”. Ketiga, suf yang berarti wol kasar, dimana para sufi tidak begitu menyukai kenikmatan dunia, karena kenikmatan dunia sering melalaikan pelakunya untuk mengingat Allah. Keempat, suffah yang berarti pelana unta, dimana para sahabat nabi yang pertama hijrah ke Madinah, tidur di Mesjid Nabawi berbantalkan suffah. Ini menandakan bahwa mereka para sufi hidup sederhana dalam berjuang mendekatkan diri kepada Allah. Terakhir diduga berasal dari kata shofos yang berarti bijaksana. Orang-orang sufi adalah orang yang bijaksana, yang lebih mendahulukan kepentingan orang lain daripada kepentingan dirinya. Sementara orang lain hanya “bijaksinia” yang mendahulukan kepentingan pribadinya daripada kepentingan orang lain.
Asal-usul ajaran tasauf, dikatakan berasal dari: Pertama, Hindu karena adanya konsep persatuan Brahma sebagai Tuhan dengan Atman orang sufi. Mirip dengan tasauf falsafi. Kedua, emanasi Plotinus, dimana pada mulanya roh itu suci. Ketika bersatu dengan jasat, roh menjadi kotor. Ketika kotor, roh membutuhkan jasad. Ketika roh kembali suci, maka roh menginginkan berpisah dengan jasad. Ajaran ini mirip dengan sikap para sufi yang melihat kematian sebagai kebahagiaan karena telah sucinya roh kembali. Ketiga, ajaran Kristen dengan konsep “Maryamisme”. Maryam tidak menikah karena pengabdiannya kepada Alllah. Di dalam ajaran Kristen, biarawati tidak boleh menikah sebagai wujud ketundukannya kepada Tuhan. Para biarawati hidupnya menyendiri untuk berkonsentrasi beribadah kepada Tuhan. Di dalam tasauf ada yang dikenal dengan zuhud, dimana para calon sufi menyepi untuk berkonsentasi mendekatkan diri kepada Allah. Keempat, dari Budha dengan faham Nirwani, dimana jika orang ingin masuk surga, maka ia harus menyakiti dirinya. Konsep ini mirip dengan ajaran tasauf, jika ingin dengan dengan Allah maka harus mengikuti hidup perihatin seperti banyak puasa menahan lapar, banyak beribadah, dan meninggalkan yang serba nikmat. Kelima, dari ajaran filsafat Pytagoras yang melihat bahwa roh itu adalah kekal dan berada di dunia seperti orang asing. Ajaran ini mirip dengan ajaran Islam yang melihat roh itu adalah kekal kemudian karena tidak menyukai kemewahan, maka ia dianggap asing.

E.       TANGGAPAN ULAMA TERHADAP TASAUF
Menanggapi ajaran tasauf ini ada golongan yang mengapresiasi karena misinya mendekatkan diri kepda Allah dengan jarak yang sedekat-dekatnya. Ada juga ulama yang menilai tasauf sunni itu sangat dianjurkan, sementara menilai tasauf falsafi itu sesat, karena mereka para sufi tersebut mengaku bersatu dengan Tuhan dan mengaku sebagai Tuhan. Ada yang menilai bahwa bertasauf itu, tidak perlu mengikuti tasauf sunni maupun falsafi, tapi cukup mengikuti ajaran Allah, karena Rasulullah tidak memperaktekkan ajaran itu.